Berlatih Kebal Hati dan Menjadi Dewasa
Semua orang dalam
hidupnya akan mengalami patah hati. Ringan,sedang, atau hebat, semua orang akan mengalaminya. Seiring bertambahnya usia, cara menyikapi patah
hati tentulah berbeda. Sebagian dengan mudah move on, sedang yang lain
menyimpan dendam.
Pengalaman saya
sendiri, berulang kali hati saya patah. Patah
hati saya banyak dikarenakan kesalahan saya mengambil langkah, atau marahnya
orang disekitar saya, atau mungkin satu
dua keinginan yang pupus. Hal semacam itu sering terjadi.
Kadang, saya berlarut
larut dalam kesedihan, kadang saya tiba tiba berteriak kesal, atau diam diam
menangis, dan kadang saya menghibur diri sendiri. Lama kelamaan saya pikir,
patah hati itu menyiksa. Kegagalan itu terbayang terus. Sekelebat saya ingat
guru biologi SMP pernah berkata, sekali kita sedih, sel-sel hati kita sebagian
akan mati. Saya langsung ngeri. Tapi beliau melanjutkan, sel-sel hati kita akan
segera melakukan regenerasi, sel baru tumbuh menggantikan yang mati. Nah, dari
situ saya sedikit berpikir, Tuhan menciptakan kita tidak untuk stuck
dalam patah hati kita. Kalau unit terkecil tubuh kita saja cepat meregenerasi dirinya
yang mati, kenapa kita yang merupakan makhluk kompleks dengan segala
kesempurnaannya, harus lama lama terpuruk. Patah hati tidak untuk ditakuti,
tidak untuk di sesali, dan tidak untuk menjadikan kita si pendendam. Kita merasakan patah hati semata agar kita
makin kuat.
Sekali dalam
sehari, saya pernah menonton pertandingan sepak bola maraton. Dimulai pukul 3
sore hingga pukul 4 pagi, tiga klub kesayangan saya bertanding bersama. Klub
klub itu bukan klub ecek ecek yang biasa menerima kekalahan, maka saya optimis
semua klub itu akan menang. Tapi ternyata, ua klub itu kalah sedang satu bermain imbang. Saat itu saya
sangat kecewa karena lawan mereka sangat prestisius, semua dicap lawan terberat
masing masing klub kesayangan saya. Saya juga tidak mengerti kenapa hanya dengan menyaksikan klub-klub itu kalah, mood saya jadi sangat buruk. Kemudian, laptop saya berkedip menawarkan
solusi. Saya menuangkan semua
perasaan saya kedalam halaman putih Microsoft Word. Hasilnya? Lumayan. Seiring
dengan bertambahnya karakter di laman putih itu, saya merasa, ini hanya
kekalahan yang biasa. Dan, buktinya saya sudah move on dengan itu.
Solusi apa yang saya
tawarkan pada kalian yang baru mengalami patah hati adalah, curahkan
perasaanmu. Keluarkan semua keluhmu lewat lisan atau tulisan. Kalau lewat lisan, hatimu dapat langsung tenang mendengar suaramu sendiri, kalau lewat
tulisan, kau akan sembuh begitu membaca tulisanmu. Tapi tidak tau juga, sih, berhasil atau tidak. Mungkin kamu dapat mencoba :)
5 Agustus 2018
Saya setuju, salah satu cara terbaik untuk mencurahkan emosi adalah lewat menulis. Bahkan setelah kesedihan itu hilang pun kita masih bisa membaca ulang apa yang kita rasakan, lalu mengambil pelajaran dari situ.
BalasHapusSaya udah baca semua entri kamu, menarik banget. Jangan berhenti menulis ya! :)
Terima kasih, it means a lot : )
HapusKomen apa yaa
BalasHapusKomen apa yaa
BalasHapusWaow,,teruslah menulis
BalasHapus