Pengalaman Berharga : Kakek Penunggu Bus dan Dilema


Suatu siang dipertengahan Maret 2018, tepatnya lupa, saya sedang menunggu jemputan di depan gerbang sekolah. Cuaca saat itu sangat panas membuat saya enggan berlama lama dan berharap bapak saya segera datang. Menunggu di cuaca yang terik dengan debu-debu berterbangan sambil menahan lapar bukanlah hal yang menyenangkan. Ditambah lagi suara gergaji mesin yang menebang pohon diseberang jalan sekolah menambah bising (di kemudian hari, penebangan itu berlanjut ke pohon pohon lain sehingga sekarang jalanan disekitar sekolah menjadi gersang dan panas), sehingga yang ada dipikiran saya adalah cepat pulang.

Saat itu bukan bapak saya yang pertama datang, saya justru melihat seorang pria tua berjalan cepat dari arah selatan. Pria tua itu menenteng sebuah bungkusan kecil dan memakai topi hitam. Saya mulai bertanya tanya, apa pria tua itu akan menghampiri saya? Apa yang akan ia katakan pada saya? Kenapa dia terus mengamati?. Akhirnya saya bersiap menyapa, saat tiba tiba pria tua itu menggerakkan tangannya kearah selatan lalu ke utara, mulutnya merapalkan sesuatu tapi  saya tidak bisa mendengarnya. Perlu beberapa detik berpikir sebelum akhirnya saya sadar bahwa kakek tua itu seorang tunawicara.

Melihatnya terus berbicara dengan bahasa isyarat dan raut wajah keriputnya yang kesal,  saya sedikit ketakutan. Apalagi kakek tua itu memutuskan untuk duduk tak jauh dari tempat saya duduk.

Perihal bungkusan kecil yang dibawanya, isinya donat keju. Saya iseng menebak untuk siapa donat itu, mungkin untuk istrinya, mungkin untuk cucunya atau mungkin untuk saya tapi masa iya?. Entahlah. Setiap kali saya menoleh kearah kakek itu, ia juga akan menoleh kepada saya lalu bicara dengan isyaratnya lagi. Meski takut, saya coba memahami dan saat itu saya menduga kakek itu sedang menunggu bus. Ternyata dugaan saya tepat.

Saat itu dari arah selatan terlihat bus kecil melaju dengan kecepatan normal. Kalian mungkin tau, hanya itu jenis bus kecil di daerah kami yang bisa melaju dengan kecepatan yang tidak-membuatmu-mengantuk. Bus dengan dominasi warna perak dan toska, dengan namanya tercetak merah muda, Cendana. Melihat Si Cendana itu, kakek tua disebelahku sontak berdiri dan melambaikan tangannya, seratus persen menghentikan bus. Namun, entah si supir sedang tidur di kemudinya, atau ia tak berniat mengangkut penumpang lagi, Cendana kecil itu terus melaju. Saya dan si kakek sontak saling pandang. Jelas ketika bus itu melaju, beberapa penumpang masih didalamnya, artinya bus itu masih beroperasi. Kakek itu terlihat geram dan menggerakkan lagi tangannya. Kalian tau, gerakan tangan apa apaan itu?. Yah,mungkin itu yang ingin ia katakan. Entahlah. Dan saya hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.Hal itu terjadi hingga tiga kali. Ya, total tiga kali Cendana lewat, tiga kali pula kakek tua itu diabaikan.  Dan sebanyak itulah pria bertubuh ringkih itu mengeluh pada saya dengan isyarat tangannya. 

Hari makin sore, bapak saya atau Cendana lain tak kunjung datang. Saya merasa kasian dengan kakek tua itu (ketika  saya meliriknya untuk kesekian kali, kakek tua itu sedang menghitung uang koin ditangannya). Akhirnya muncul dipikiran saya untuk membantunya mendapatkan bus, mungkin saya dapat menghentikan busnya. Namun bersamaan dengan itu, saya takut, bagaimana jika supir bus memarahi saya jika kakek itu yang naik.

Saya masih dilema dengan iba dan takut akan resiko yang belum mungkin terjadi saat satu Cendana terlihat melaju. Saya makin diambang dilema antara menyetop atau tidak. Saat saya lirik si kakek tua, ia sepertinya sudah lelah menunggu dan tidak melihat arah selatan. Pada akhirnya, saya menyerah untuk menolong kakek itu. Cendana itupun melaju dengan kencang, dan si kakek tersentak kaget.
Kakek tua itu terlihat sangat kecewa dengan perginya Cendana terakhir. Ia mengeluhkannya dengan berbahasa isyarat pada udara, bukan lagi pada saya. Betapa kesalnya diabaikan sampai empat kali. Dengan raut kecewa, kakek tua itu akhirnya beranjak. Ia memutuskan berjalan kaki. Langkahnya cepat meski tubuhnya ringkih. Saya masih sempat melihatnya sedikit melompati dahan kayu yang ditebang dipinggir jalan, sebelum akhirnya benar benar menghilang dari pandangan.





Image Source : Google

Hingga saat saya mengetik kisah ini, saya masih merasa menyesal. Saya berpikir jika saya tidak memikirkan resiko khayal yang belum mungkin terjadi itu, mungkin bus Cendana itu bisa mengangkut si kakek, lalu mungkin kakek itu akan lebih cepat sampai ke rumahnya, lalu seseorang akan menyambutnya dan si kakek akan memberikan donat keju yang ditentengnya. Saya tidak tau bagaimana kisah kakek itu di jalan, saya tidak tau bagaimana kabarnya sekarang. Namun raut kecewanya sore itu menyampaikan saya sebuah pesan, bahwa kegagalan telah terjadi sejak kita memutuskan untuk tidak mencoba mengambil resiko.

Di lain hari, saya berharap kami bisa kembali bersilang jalan. Saat saya bisa melakukan sesuatu untuk membantunya, atau setidaknya tidak ada lagi kakek tua penunggu bus dan si penakut yang menunggu terlalu lama.

Semoga  bermanfaat!



13.38 WIB

Madiun, 28 April 2018.



Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer